Kalau kamu mengikuti dan memperhatikan setiap agenda di masa pemilu kemarin, kamu pasti tahu isu unicorn. Kata tersebut ramai diperbincangkan setelah salah satu calon presiden mempertanyakan istilah tersebut.

Sebetulnya, istilah ini mungkin bukan istilah yang baru. Hanya saja, semakin populer dan familiar di kalangan masyarakat pasca tokoh-tokoh negara memperbincangkannya. Kalau kamu sendiri sudah tahu apa itu unicorn?

Artikel ini akan mencoba membahas apa itu unicorn. Nantinya, ini bukan hanya akan menjadi pengetahuanmu, tapi juga akan menjadi bekal, siapa tahu kamu mau mendirikannya. Untuk itu, baca artikel ini sampai selesai ya!

Pengertian Unicorn

Kamu pernah dengar nama Achmad Zaky, Nadiem Makariem, atau William Tanuwijaya? Nama-nama ini akan sering terdengar kalau kamu tengah membicarakan unicorn. Tapi, kita tidak akan membahas mereka, kita akan bahas soal model bisnis atau perusahaan yang mereka kelola.

Istilah unicorn, pertama kali dikenalkan oleh pendiri Cowboy Ventures, dalam tulisannya yang berjudul Welcome to The Unicorn Club. Di dalamnya dijelaskan bahwa unicorn adalah perusahaan startup yang memiliki valuasi nilai sebesar 1 miliar dolar Amerika.

Sedangkan istilah startup diartikan sebagai perusahaan yang baru didirikan. Perusahaan tersebut masih berada dalam proses pengembangan dan penelitian lebih lanjut, khususnya untuk menemukan pasar yang tepat.

Adapun valuasi nilai, merupakan nilai ekonomi dalam sebuah bisnis. Tujuannya untuk mengukur seberapa besar potensi yang dimiliki bisnis tersebut.

Sebetulnya, ada tingkatan lebih tinggi dari unicorn. Hal tersebut mengacu pada valuasi nilai perusahannya. Satu tingkat diatas unicorn adalah decacorn, perusahaan rintisan dengan valuasi nilai sebesar 10 miliar dolar Amerika. Serta hectocorn dengan valuasi nilai 100 miliar dolar Amerika.

Perjalanan Start up dan Unicorn

Bicara unicorn,  memang tidak akan jauh dari bicara startup. Hal ini karena sebetulnya unicorn adalah startup, yang membedakan adalah valuasi nilainya. Jika secara definisi diartikan sebagai perusahaan rintisan, tapi ternyata akhir-akhir ini ada beberapa pergeseran arti.

Startup bukan lagi sekadar perusahaan rintisan yang masih berkembang. Namun ia merupakan industri yang dapat menciptakan inovasi baru. Inovasi tersebut secara lebih spesifik, harus bisa memberikan suatu solusi terhadap masalah yang ada.

Sebagai perusahaan rintisan, umumnya startup membutuhkan banyak biaya untuk pengembangan dan penelitian. Pendanaan itu bisa didapat startup dari berbagai sumber, seperti kredit usaha atau investor.

Saat semakin berkembang, kualitas produk dapat dibuktikan, dan produk semakin dipercaya oleh masyarakat, maka nilai valuasi perusahaan akan bertambah. Pada saat itulah startup dapat dikatakan sebagai unicorn.

Metode Perhitungan Valuasi Nilai Unicorn

Banyak bicara valuasi nilai, sebetulnya bagaimana sih kita dapat mengetahui valuasi nilai suatu perusahaan? Bagaimana cara menghitung valuasi nilai tersebut. Berikut akan coba kita bahas.

Sebetulnya, perhitungan valuasi nilai sebuah startup atau unicorn dengan bisnis biasa tidak jauh berbeda. Hanya saja, sebagai perusahaan rintisan, ada beberapa hal yang membedakannya, yaitu belum adanya keuntungan yang menjadi dasar perhitungan.

Untuk itu, ada beberapa variabel yang ada di bisnis konvensional, tapi tidak ada di perhitungan bisnis startup atau unicorn. Variabel untuk menghitung valuasi nilai mereka adalah sebagai berikut:

  • Jumlah dan nominal transaksi
  • Jumlah pengguna
  • Teknologi produksi yang dimiliki
  • Kualitas dan kompetensi tim
  • Kompetitor yang ada

Istilah Valuasi Pre-Money dan Post Money

Jika kamu akan menghitung valuasi nilai dari sebuah startup atau unicorn, kamu akan sering mendengar dua istilah yang baru kita sebut di sub judul, yaitu pre money dan post money.

Singkatnya, valuasi pre money merupakan “harga” dari sebuah start up, saat belum mendapatkan investasi. Sedangkan valuasi post money adalah kebalikannya. Dengan kata lain merupakan “harga” start up pasca investasi.

Contoh

Untuk membuat kamu lebih paham dan punya gambaran, berikut akan kita bahas cara perhitungan ini melalui contoh.

Valuasi nilai start up saat ini Rp. 75.000.000.000 Dinamakan sebagai valuasi pre money
Investasi baru dari investor Rp. 25.000.000.000  
TOTAL Rp. 100.000.000.000 Dinamakan sebagai valuasi post money

Jika sudah menemukan valuasi nilai pre dan post money, selanjutnya adalah menghitung saham yang mungkin didapat oleh investor. Caranya adalah sebagai berikut,

Saham yang didapat investor :        Rp.   25.000.000.000               = 25%

Rp. 100.000.000.000

Kelebihan Bisnis Unicorn

Saat ini, di Indonesia, tercatat ada empat unicorn, dan ratusan startup. Keempat unicorn tersebut adalah perusahaan-perusahaan baru yang memberikan inovasi dan banyak membantu masyarakat Indonesia.

Mereka adalah Bukalapak, situs jual beli online. Bisnis yang serupa dengannya juga adalah tokopedia. Kemudian ada gojek, sebagai unicorn yang awalnya bergerak di bidang transportasi, serta traveloka, yang bisa didefinisikan dari namanya.

Sebetulnya apa sih keuntungan atau kelebihan dari bisnis berbasis startup atau unicorn? Berikut akan kita bahas kelebihannya, yang mungkin akan membuatmu tertarik untuk mendirikannya juga.

Membuka Lapangan Pekerjaan

Sebagaimana bisnis-bisnis lainnya, bisnis startup atau unicorn juga akan membuka lapangan kerja. Tercatat banyak tenaga kerja yang terserap dari adanya unicorn di Indonesia.

Model bisnisnya dan status pengembangannya, serta produknya yang membawa inovasi dan solusi membuat unicorn membutuhkan banyak tim dan banyak tenaga kerja untuk membantu pengembangannya.

Membantu UMKM

Unicorn yang telah ada di Indonesia saat ini bergerak di bidang yang melibatkan banyak UMKM, atau usaha mikro kecil menengah. Sehingga dengan begitu, dapat dikatakan bahwa unicorn memiliki kelebihan yang satu ini, yaitu membantu pengembangan UMKM yang ada di Indonesia.

Membuka Kesempatan Suntikan Dana

Bisnis unicorn tengah banyak diperbincangkan dan cukup menarik bagi para investor. Dengan begitu, akan membuka banyak peluang suntikan dana terhadap bisnis-bisnis tersebut.

Investasi yang besar tersebut juga akan berdampak pada nilai investasi negara dan peningkatan valuasi nilai, serta perekonomian Indonesia.

Ekspansi Keluar Negeri

Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh bisnis unicorn adalah inovasinya. Hal ini memudahkan bisnis tersebut untuk merambah pasar yang lebih luas, salah satunya adalah melakukan ekspansi ke luar negeri. Ini, sudah banyak dilakukan oleh unicorn-unicorn Indonesia.

Pengaruh Unicorn terhadap Industri 4.0

Istilah-istilah ini memang banyak dikatakan ya, banyak yang mengaitkannya satu sama lain. Satu ha l yang menjadi benang merah dari semua itu adalah era digital. Baik startup, unicorn, atau industri 4.0.

Bicara industri 4.0 yang erat kaitannya dengan teknologi, ternyata keberadaan unicorn dapat berperan besar dalam era industri 4.0 ini. Peran unicorn adalah sebagai berikut:

  • Mendorong angkatan kerja Indonesia untuk meningkatkan kemampuannya. Terutama dalam hal teknologi internet, dan integerasi kemampuan internet dengan produksi.
  • Pemanfaatan teknologi digital yang dapat medorong usaha kecil menengah atau industri kecil menengah untuk mencapai pasar ekspor.
  • Pemanfaatan lebih maksimal teknologi digital, seperti big data, cloud atau
  • Mendorong investasi teknologi melalui
  • Memfasilitasi inkubasi bisnis, agar semakin banyak wirausaha berbasis teknologi dan digital di Indonesia.

Sejauh penjelasan ini dipaparkan, apakah kamu terpikirkan atau tertarik untuk membangun sebuah startup yang nantinya akan menjadi unicorn? Atau justru kamu sudah menemukan suatu masalah yang butuh solusi, dan ternyata solusi tersebut bisa kamu hadirkan melalui bisnis unicorn milikmu.

Kalau sudah begitu, tidak ada salahnya untuk belajar lebih jauh dan mulai mencoba merintisnya, siapa tahu kamu akan menjadi salah satu pendiri unicorn di Indonesia, dan menambah daftar unicorn yang dimiliki Indonesia.

Namun sebelum itu semua, ada satu hal yang jangan sampai terlewatkan, kamu tetap harus memperhatikan poin ini. Karena ini dapat memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan suatu bisnis atau perusahaan, yaitu keuangan.

Kamu harus memiliki pengelolaan keuangan yang baik dan rapi, agar data dan informasi yang dibutuhkan dapat mudah kamu temui. Bicara dunia digital, ini ada aplikasi digital yang akan membantumu mengurus keuangan perusahaan.

  1. Asal Usul Kata Unicorn di Industri “Startup”, Mengapa Bisa Dipakai?
Manusia yang hidup di Jerman pada abad ke-17 benar-benar percaya bahwa unicorn ada.

KOMPAS.com – Minggu (17/2/2019) malam, istilah ” unicorn” ramai diperbincangkan warganet saat debat calon presiden 2019 putaran kedua berlangsung. Unicorn menjadi buah bibir lantaran calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto terlihat tidak terlalu paham istilah unicorn saat calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) melempar pertanyaan soal itu.

“Infrastruktur apa yang akan bapak bangun untuk mendukung pengembangan unicorn-unicorn Indonesia?,” tanya Jokowi.

Prabowo pun berdiri untuk mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.

“Yang Bapak maksud unicorn? Unicorn yang online-online itu?,” respons Prabowo sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan.

 Itulah muasal istilah unicorn menjadi perbincangan di media sosial. Tapi sebenarnya, apakah unicorn itu? Dari mana istilah itu berawal? Mengapa harus menyomot nama unicorn, bukan istilah lainnya?

Obsesi magis

Secara singkat, istilah unicorn disematkan bagi perusahaan rintisan (startup) yang memiliki valuasi lebih dari satu miliar dollar AS atau jika dikonversi ke rupiah saat ini, nilainya mencapai Rp 14,1 triliun.

Istilah ini pertama kali muncul sekitar tahun 2013 lalu yang ditulis secara publik oleh Aileen Lee, seorang pemodal ventura dari Cowboy Ventures.

Lee menggunakan istilah itu dalam sebuah artikel yang diterbitkan Tech Crunch dengan judul “Welcome to the Unicorn Club: Learning From Billion-Dollar Startups”.

Sejak saat itu, “unicorn” menjadi kosa kata baru di bidang investor publik dan swasta, pengusaha, dan siapapun mereka yang bekerja di industri teknologi.

Mengapa harus unicorn, mitos seekor kuda bertanduk satu, yang sebagian besar orang tidak percaya mereka ada, sedangkan valuasi perusahaan itu riil terhitung angka dan nyata?

 Lee menganggap istilah unicorn mampu menggambarkan obsesi magis para startup yang berburu valuasi hingga miliaran dollar AS. Ditambah kala itu, masih sedikit perusahaan rintisan yang memiliki valuasi 1 miliar dollar AS.

“Mengapa para investor sangat peduli dengan miliaran dollar “exit” (pencairan atas kekayaan)?”, tulisnya dalam artikel.

Padahal menurut Lee, secara historis, para pemodal ventura kelas atas berupaya meningkatkan hasil investasi mereka, hanya dari kepemilikan beberapa perusahaan yang telah mereka sokongi dana.

Modal ventura tradisional juga kian meningkat, mensyaratkan pencairan (exit) lebih besar, agar imbal hasil investasinya setinggi modal yang diberikan.

“Misalnya, untuk mengembalikan modal awal 400 juta dollar AS dana ventura, mungkin akan butuh kepemilikan masing-masing 20 persen saham dari dua perusahaan yang berbeda dengan valuasi 1 miliar dollar AS, atau 20 persen dari perusahaan yang memiliki valuasi 2 miliar dollar AS ketika perusahaan tersebut diakusisi atau menjadi publik,” terang Lee.

Dari sinilah, Lee bertanya-tanya, seberapa mungkin sebuah startup digital mencapai valuasi 1 miliar dollar AS agar menarik bagi investor.

Kemungkinan yang saat itu masih jarang diperoleh startup, dijadikan alasan Lee untuk menyebutnya “unicorn”. Ia pun tak menampik bahwa istilah itu cukup aneh dan kurang pas.

“Ya, kami tahu istilah “unicorn” tidaklah tepat, unicorn mungkin tidak nyata dan perusahaan-perusahaan itu nyata, tapi kami menyukai istilah itu karena bagi kami, hal itu berarti sesuatu yang sangat jarang dan bersifat magis,” paparnya, dikutip KompasTekno dari Tech World, Senin (18/2/2019).

Setelah unicorn

Istilah unicorn pun dikembangkan menjadi decacorn, untuk menyebut perusahaan rintisan yang memiliki valuasi di atas 10 miliar dollar AS. Ada juga istilah hectocorn untuk menyebut startup dengan valuasi di atas 150 miliar dollar AS.

Dalam skala regional, menurut data Google-Temasek tahun 2018, Asia Tenggara kini memiliki sembilan startup unicorn, empat di antaranya berasal dari Indonesia. Mereka adalah perusahaan ride-hailing Go-Jek, e-commerce Tokopedia, layanan tiket online Traveloka, dan e-commerce Bukalapak.

Sejauh ini, Asia Tenggara baru memiliki satu startup decacorn, yakni Grab. Isu terakhir yang berkembang, pesaing Grab yakni Go-Jek disebut akan segera menyusul menjadi startup decacorn. Laporan Tech Crunch menyebut valuasi Go-Jek setelah putaran pendanaan terakhir ditaksir mencapai 9,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 134 triliun).

  • Ketambahan Ovo, Ini Daftar 5 Startup “Unicorn” di Indonesia
Ilustrasi Unicorn di industri startup.

KOMPAS.com – Indonesia telah memiliki 5 perusahaan rintisan (startup) yang menyandang gelar ” Unicorn”. Julukan demikian diberikan kepada para startup yang telah memiliki nilai valuasi di atas 1 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 14,1 triliun.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara sebelumnya menargetkan bakal ada 5 startup asal Indonesia yang menyandang gelar Unicorn sebelum akhir 2019. Kini, target itu nampaknya tercapai berkat Ovo yang disebutnya telah menyandang gelar tersebut. Lantas, startup apa saja yang memiliki gelar Unicorn di Indonesia? Baca juga: Menkominfo: Ovo Jadi Startup Unicorn Kelima dari Indonesia Simak pemaparan KompasTekno sebagaimana dirangkum dari daftar startup Unicorn dunia pada “The Global Unicorn Club”, yang dirilis oleh lembaga riset AS, CBInsight, Senin (7/10/2019).

  1. Gojek

Gojek dirintis oleh Nadiem Makariem pada tahun 2010 silam. Perusahaan yang bernaung di PT Aplikasi Karya Anak Bangsa ini merupakan startup asal Indonesia pertama yang menyabet gelar Unicorn.

 Gelar ini didapat setelah Gojek menerima kucuran dana sekitar 550 juta dollar AS (Rp 7,2 triliun) dari sejumlah investor pada Agustus 2016 lalu, seperti Formation Group, Sequoia Capital India, hingga Warburg Pincus.

Perusahaan yang awalnya fokus di bidang transportasi ini (GoRide dan GoCar) sekarang memiliki aneka layanan yang bertujuan untuk mempermudah aktivitas masyarakat, seperti GoFood, GoSend, GoMassage, dan lain sebagainya.

Gojek pun sudah melebarkan sayapnya ke luar Indonesia, seperti Singapura, Vietnam (dengan nama Go-Viet), dan Thailand (dengan nama Get!).

Kini, Gojek sudah menyandang gelar “Decacorn”, sebutan bagi startup yang memiliki nilai valuasi di atas 10 miliar dollar AS, dengan valuasi Gojek saat ini tercatat tepat di angka tersebut, sekitar Rp 141 triliun.

  • Tokopedia

Perusahaan rintisan yang fokus di bidang e-commerce online-to-offline (O2O), Tokopedia, menjadi startup Unicorn kedua asal Indonesia setelah Gojek. Perusahaan yang didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison pada tahun 2009 ini menyabet gelar Unicorn setelah mendapatkan pendanaan dari Alibaba Group sebesar 1,1 miliar AS pada tahun 2017 lalu. Tokopedia memiliki misi “pemerataan ekonomi secara digital” dan kini diklaim telah memiliki lebih dari 90 juta pengguna aktif per bulan dan 6,4 juta penjual. Baca juga: Tokopedia Umumkan Mendapat Suntikan Dana Rp 16 Triliun Tokopedia pun memiliki sekitar 150 juta produk, 33 produk digital, dan 50 sistem pembayaran bagi para penggunanya. Kini, valuasi Tokopedia tercatat di angka 7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 99 triliun.

  • Traveloka

Traveloka didirikan oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang pada tahun 2012. Perusahaan rintisan yang fokus di bidang travel dan pemesanan hotel ini diklaim merupakan startup travel Asia Tenggara pertama yang menyandang gelar Unicorn. Hal itu diraih setelah Traveloka mendapatkan kucuran dana 350 juta dollar AS dari perusahaan di bidang yang sama, Expedia, pada Juli 2017 lalu.  Saat ini Traveloka memiliki sejumlah produk yang dapat melayani kebutuhan end-to-end para pelancong Tanah Air, mulai dari tiket pesawat, kereta api, bus, sewa mobil, hotel, kuliner, tiket bioskop, hingga kecantikan. Baca juga: Arab Saudi Gandeng Traveloka dan Tokopedia untuk Buat Platform Umrah Layanan yang disediakan Traveloka sendiri bisa dinikmati di Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Berdasarkan data CBInsight, saat ini Traveloka memiliki angka valuasi sebesar 2 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 28 triliun.

  • Bukalapak

Di tempat keempat ada Bukalapak, perusahaan rintisan di bidang e-commerce yang didirikan oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Fajrin Rasyid pada awal tahun 2010 silam. Bukalapak mendapatkan gelar Unicorn setelah mendapatkan kucuran dana dari beberapa grup investor besar, salah satunya adalah Emtek Grup dan 500 Startups. Yang terbaru, Bukalapak baru saja mendapatkan suntikan dana dari perusahaan asal Korea Selatan, Shinhan GIB. Meski tidak disebutkan jumlahnya, masuknya pendanaan ini membuat valuasi perusahaan diklaim menjadi lebih dari 2,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35 triliun. Dalam sebuah video, Bukalapak mengklaim sudah memproses ratusan juta transaksi dengan dari jutaan pelapak yang ada di platformnya. Baca juga: Bukalapak Dapat Suntikan Dana Baru, Valuasi Naik Jadi Rp 35 Triliun

  • Ovo

Menkominfo Rudiantara, pada ajang Siberkreasi 2019 yang digelar pekan lalu, menyebut bahwa Ovo sudah menjadi Unicorn asal Indonesia yang baru setelah empat perusahaan yang tadi disebutkan. “Saya sudah bicara dengan founder-nya, dan memang iya (sudah jadi unicorn). Makanya saya berani bicara setelah saya konfirmasi,” ujar Rudiantara seperti diwartakan sebelumnya. Ovo, penyedia layanan pembayaran elektronik besutan Grup Lippo, ditaksir memiliki valuasi sebesar 2,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 41 triliun oleh firma analis perusahaan CB Insight. Angka tersebut, menurut CB Insight, sudah dicapai sejak 14 Maret 2018. Baca juga: Dompet Digital Tokopedia Diganti, dari TokoCash Jadi Ovo Ovo sendiri merupakan layanan dompet digital yang menawarkan kemudahan bertransaksi di sejumlah mitra Ovo. Platform ini juga bisa digunakan untuk pembayaran aplikasi Grab. Unicorn berikutnya Selain lima startup yang telah disebutkan, ada satu perusahaan rintisan lagi yang berpotensi untuk menyabet gelar Unicorn sebelum akhir 2019. Hal itu sempat disinggung oleh Rudiantara dalam momen Siberkreasi 2019. “Saya berharap justru target kelima itu melebihi karena sebetulnya ada lagi yang berpotensi sebelum akhir tahun ini jadi unicorn. Sekarang, transaksinya sedang berjalan,” kata Rudiantara, sebagaimana dikutip KompasTekno dari Antara. Tidak disebutkan startup apa yang bakal menyabet gelar Unicorn tersebut. Namun, Rudiantara secara implisit menyebut bahwa perusahaan rintisan tersebut fokus di bidang pendidikan atau kesehatan. “Bagaimana pun, secara logika, 20 persen APBN pemerintah untuk pendidikan, lima persen untuk kesehatan. Jadi, masa sih tidak ada unicorn dari sektor itu,” imbuhnya

  • Unicorn yang Lebih dari Sekadar “Online-Online”
Ilustrasi unicorn bisnis Indonesia. Getty Images/iStockphoto

tirto.id – Dalam debat Pilpres 2019 yang diadakan pada Minggu (17/2), ada segmen tanya jawab yang kemudian jadi viral. Semua dimulai dari pertanyaan Capres nomor urut 01, Joko Widodo untuk lawannya, Prabowo Subianto.

“Infrastruktur apa yang akan Bapak bangun untuk mendukung pengembangan Unicorn-unicorn Indonesia?” tanya Jokowi.

“Yang Bapak maksud Unicorn maksudnya apa itu online-online itu?” Prabowo balik bertanya dengan sedikit kebingungan.

Ketidaktahuan Prabowo soal Unicorn menjadi pamungkas penampilan buruknya di debat kedua. Mantan Danjen Kopassus ini dianggap terlalu banyak beretorika, jarang memberi konteks dan data dalam omongannya, blunder soal agraria, dan puncaknya: pertanyaan Unicorn dari Jokowi memberi gambaran bahwa Prabowo tidak paham soal industri digital.

Unicorn jelas bukanlah “online-online itu.” Dalam dunia startup –perusahaan rintisan di bidang teknologi– sebagaimana yang dimaksud Jokowi, Unicorn adalah gelar bagi perusahaan rintisan yang memiliki nilai valuasi lebih dari 1 miliar dolar. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Aileen Lee, investor pendiri Cowboy Ventures, dalam artikelnya “Welcome to The Unicorn Club” yang terbit di Techcrunch pada 2013.

Istilah Unicorn diambil dari spesies kuda mitologi yang memiliki tanduk tunggal di kepala. Unicorn, dalam pemberian gelarnya pada suatu startup, merepresentasikan status si kuda dongeng itu sendiri: langka dan mustahil (baca: sulit dicapai).

Saat Lee menciptakan istilah itu, ia mengidentifikasi ada 39 startup berstatus Unicorn. Menurut perkiraannya, akan lahir empat startup berstatus Unicorn saban tahun. Ini artinya akan ada sekitar 60-an Unicorn pada 2019. Ternyata, perkiraan Lee meleset. Jumlahnya malah melampaui angka 60. Hingga hari, setidaknya ada lebih dari 300 Unicorn di dunia.

Penyumbang terbesar adalah Cina, yang punya lebih dari 130 Unicorn. Lalu disusul Amerika Serikat dengan 85 Unicorn, India (20), dan Inggris (7). Jika diakumulasikan, semua Unicorn di seluruh dunia ini menggenggam valuasi senilai lebih dari 1 triliun dolar.

Dari semua Unicorn di dunia, Indonesia menyumbang empat di antaranya. Mereka adalah Gojek dengan valuasi sebesar 9,5 miliar dolar, Tokopedia (7 miliar dolar), Traveloka (4,1 miliar dolar), dan Bukalapak (1 miliar dolar).

Valuasi dan Status yang Tak Lagi Langka

Nilai valuasi sebuah perusahaan rintisan ditentukan oleh beragam indikator. Misalkan investasi, penguasaan pasar, hingga Gross Merchandise Value (GMV) atau Gross Transaction Value (GTV), yakni total nilai kotor transaksi yang dilakukan.

Valuasi Gojek, misalkan, awalnya tercipta dari total pendanaan senilai 3 miliar dolar (angka yang dibuka ke publik) dari tujuh sesi pendanaan yang telah dilakukan. Kemudian, valuasi Gojek didukung oleh 79,20 persen pangsa pasar dunia ride-sharing Indonesia yang didasarkan penilaian versi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Terakhir, valuasi didukung pula oleh total GTV yang diproses Gojek dari Go-Ride, Go-Food, Go-Pay, dan beragam layanan lainnya sebesar $19 miliar.

Seiring tren perusahaan rintisan dan investasi yang mengarah ke sana, perlahan status unicorn tak lagi selangka dulu. Jika awal Lee bikin istilah itu karena hanya ada sekitar 30-an Unicorn, kini sudah ada 300. Angka valuasi 1 miliar dolar pun bukan jadi hal yang “wah”. Para investor kian senang merogoh kocek untuk mendanai perusahaan rintisan.

Di Amerika Serikat, misalnya, kapital ventura (venture capital/VC), total mengucurkan dana sekitar 99,5 miliar dolar untuk mendanai berbagai startup selama 2018. Jumlah investasi itu naik dari angka 76,4 miliar dolar pada 2017 dan 63,8 miliar dolar pada 2016. Sedangkan investasi paling awal (seed funding) juga meningkat, rata-rata perusahaan rintisan dapat investasi 1,1 juta dolar Jumlah itu juga meningkat dari 1 juta dolar pada 2017, dan 0,8 juta dolar pada 2016.

Karena status Unicorn yang tak lagi langka dan angka 1 miliar dolar sudah jadi wajar, maka dunia perusahaan rintisan mengenal istilah baru: Decacorn.

Ia adalah status lanjutan Unicorn, yang disematkan bagi startup bervaluasi lebih dari 10 miliar dolar. Hingga 2017, ada sekitar 15 perusahaan rintisan yang menyandang status ini. Beberapa perusahaan rintisan yang masuk dalam kategori elite ini, antara lain: Uber dengan nilai valuasi 80 miliar dolar dan diperkirakan pada 2019 akan meningkat jadi 120 miliar dolar, Didi Chuxing (56 miliar dolar), AirBnB (31 miliar dolar), juga SpaceX yang valuasinya sekitar 30,5 miliar dolar.

Di Asia Tenggara baru Grab yang berstatus Decacorn dengan valuasi sekitar 11 miliar dolar. Perusahaan Malaysia yang berbasis di Singapura ini menjadi Decacorn setelah ditopang oleh 39 investor yang menggelontorkan uang dalam 22 kali sesi pendanaan. Investor mereka, antara lain: Softbank, Microsoft, Toyota, hingga Hyundai. Valuasi mereka juga didukung oleh klaim bahwa mereka sudah memperoleh pendapatan lebih dari 1 miliar dolar, meski tidak dijelaskan apakah mereka sudah untung atau masih rugi.

Sampai sekarang, perusahaan rintisan asal Indonesia yang paling dekat dengan status Decacorn adalah Gojek. Dengan valuasi 9,5 miliar dolar, tinggal satu tarikan napas lagi mereka bisa sejajar dengan Grab –satu-satunya saingan mereka dalam memperebutkan pasar ride sharing di Indonesia.

Mengingat makin usangnya istilah Unicorn, mungkin ada baiknya calon pemimpin negara ini mulai belajar soal Decacorn, atau malah ke tingkat selanjutnya: Hectocorn, alias perusahaan rintisan dengan valuasi lebih dari 100 miliar dolar. Paling tidak, agar tidak gagap ketika berdiskusi soal ini.

Language »