Saat ini film sudah menjadi bagian dari komunikasi massa yang memiliki kekuatan untuk menjangkau berbagai segmen sosial di masyarakat. Sebuah film diyakini memiliki potensi untuk mempengaruhi dan membentuk khalayak berdasarkan muatan pesan dibaliknya. Karenanya tak jarang sebuah film juga disisipi ‘iklan terselubung’ dalam rangka membangun brand image tertentu. Iklan jenis ini umumnya disesuaikan sedemikian rupa dalam naskah atau narasi, untuk kemudian ditampilkan secara ‘halus’ ke dalam layar. Pada umumnya sebuah perusahaan beriklan dengan tujuan mendapat respons secara langsung maupun tidak langsung dari audiens terhadap objek yang diiklankan. Artinya, iklan tidak hanya membangun kesadaran ( awareness ) keberadaan sebuah barang atau jasa, namun juga berupaya membentuk sebuah pencitraan terhadap brand atau merk sebagai upaya mendekatkan produk dengan sasarannya.

Menariknya iklan yang disisipkan kedalam film, harus mengalami berbagai penyesuaian untuk dapat disajikan tanpa merusak esensi film itu sendiri. Ini tentu jauh berbeda dibanding iklan komersil biasa. Persoalan yang terjadi pada iklan yang ‘disisipkan’ ke dalam film adalah komunikasi yang berfokus pada pemahaman terhadap cerita (aspek naratif film), bukan kepada barang atau jasa ( brand) itu sendiri. Bahasa yang dipakai adalah bahasa film, bukan bahasa iklan. Pembuat film umumnya tentu menginginkan fokus audiens terserap pada konteks cerita, sehingga bahasa film yang dipergunakan dirancang untuk merangsang audiens ‘melebur’ pada alur film yang mereka tonton. Ketika hal ini sukses dilakukan, akan muncul pertanyaan, ‘apakah keberadaan iklan-iklan tersebut mampu disadari oleh audiens?’.

Iklan merupakan salah satu komponen marketing mix yang umum dilakukan oleh perusahaan. Bahkan kegiatan iklan dianggap sangat penting jika ingin produknya sukses di pasar. Kini, tiap tahun dan tiap melakukan launching produk baru umumnya perusahaan rela menghabiskan ratusan juta bahkan miliaran rupiah untuk pengeluaran biaya iklan. Perusahaan berlomba-lomba membuat iklan untuk membangun posisi yang menguntungkan di pasar. Kondisi persaingan yang semakin ketat pun memicu biaya ini bertambah tiap tahunnya. Tiada hari tanpa iklan. Begitulah gambaran terhadap fenomena iklan televisi saat ini. Setiap jam dalam setiap program televisi selalu dipenuhi tayangan iklan yang saat ini kian memasyarakat bahkan cenderung membius. Jika melihat pengaruhnya, iklan tersebut dapat berpengaruh positif dan negatif, tergantung siapa audiensinya. Iklan memang dapat memengaruhi perilaku konsumen terhadap produk atau merek yang diiklankan. Pengaruh iklan pada perilaku konsumen ini sangat variatif, mulai dari mendorong konsumen untuk mencari produk yang dimaksud sampai mendorong orang yang sebelumnya tidak loyal menjadi loyal. Untuk bisa menghasilkan iklan efektif yang sekaligus dapat membius publik, tentunya dibutuhkan strategi perancangan yang matang. Bukan cuma tampilan fisik atau visual yang “wah”, tapi juga mampu mengomunikasikan pesan yang tersirat melalui konten dan konteks yang disajikan. Artinya, mampu memadukan pesan yang eksplisit dan pesan yang implisit. Disinilah dibutuhkan strategi terbaik agar pesan yang dikedepankan bisa ditangkap dalam durasi waktu tertentu, untuk strata sosial dan usia yang bervariasi.

Apa manfaat iklan di bioskop?

Berikut adalah manfaat iklan di bioskop:

Iklan di layar bioskop besar memiliki dampak yang lebih besar daripada kehidupan pada pesan. Dengan kemampuan untuk memutar video dan slide dengan audio, pengiklan dapat berbicara dengan lebih banyak pemirsa daripada cetak atau radio.

Penonton adalah tawanan dan tidak dapat mengubah saluran atau membalik halaman. Beriklan di bioskop memberi peluang bagi pemirsa untuk menonton iklan bioskop di layar yang lebih tinggi daripada media lainnya.

Biaya per cakupan untuk iklan bioskop kurang dari opsi iklan non tradisional lainnya.

Language »