Di era yang serba digital banyak anak muda Indonesia yang tertarik membuat startup atau perusahaan rintisan berbasis teknologi. Sebelum berkecimpung di dalamnya, penting untuk memahami apakah startup itu sebenarnya.Bisnis startup di Indonesia mulai menjadi tren dan banyak digandrungi milenial sejak lima tahun belakangan. Yansen melihat startup berbasis teknologi digital sebenarnya sudah mulai bermunculan sejak 2010. Startup sejenis kemudian terus tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan besar sehingga menginspirasi milenial lain mencoba bisnis serupa. Yansen mengatakan perkembangan teknologi semakin memudahkan setiap orang untuk membuka usaha. Belum lagi kehadiran media sosial yang memudahkan para pelaku usaha baru untuk berpromosi.

“Fenomena startup maraknya itu 2013-2014, [ditandai dengan] munculnya Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, walaupun mereka sebenarnya sudah mulai dari 2010-2011. Ini karena digital sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan mengubah banyak hal, termasuk cara kita berteman sampai jalan-jalan, dan ini sebuah peluang buat milenial,” kata Yansen.

Paw juga menilai kalau banyak milenial yang tidak lagi berpikir setelah selesai kuliah harus dapat kerja di perusahaan ternama. Namun, mereka berpikir bagaimana menciptakan sesuatu yang keren dan bisa memberikan solusi bagi berbagai masalah dalam masyarakat.

Sayangnya, tak sedikit milenial yang berangkat dengan tujuan salah ketika mendirikan startup, seperti ingin terlihat keren atau menjadi populer. Pria 28 tahun itu juga menambahkan bahwa hampir semua pendiri startup lokal mengalami kegagalan di awal usaha.


Meski demikian, jika mereka tidak menyerah dan terus mau mencoba maka bisa membangun startup menjadi perusahaan besar. Maka dari itu, perlu disadari bahwa startup adalah bisnis yang nyata bukan hanya sesuatu untuk membuat Anda terlihat keren.

“Menariknya kalau kita bikin startup hampir pasti gagal. Ada riset [yang menunjukkan] 98% startup gagal dan hanya 2% yang berhasil langsung. Nah, ini yang sebenarnya perlu disadari bahwa bikin startup pada akhirnya bikin bisnis. Jatuh-bangun usaha itu pasti akan terjadi karena startup lebih challenging,” ujar Paw. (prm)

Selain itu ada juga startup lagi yang sedang dalam perkembangan yaitu Vallet, merupakan perusahaan rintisan (start up) karya anak bangsa yang menyediakan produk aplikasi desain grafis pertama di Indonesia dan dapat dioperasikan secara online, tentunya berbasis website. Selain itu, Vallet juga menawarkan privilege bagi user-user yang terdaftar, yaitu adanya privilege gratis alias gak berbayar selama menggunakan platform Vallet dengan berbagai pilihan template dan desain lainnya. Hmm.. Menarik kan?

Eits, gak cuma itu. Vallet juga punya keunikan tersendiri, yaitu menyediakan pelatihan offline buat kamu yang punya interest dalam bidang desain grafis, tentunya akan dibimbing oleh para pelatih yang profesional. Desain grafis itu seni dan berkaitan dengan taste setiap orang. Bisa dikatakan belajar desain grafis itu ‘susah-susah gampang’ dengan segala macam alat yang ada. Tapi, berbeda dengan Vallet, karena Vallet paham betul kultur masyarakat Indonesia dan menyediakan platform yang di-setting dengan desain user interface yang baik, sehingga memudahkan para penggunanya untuk betah berlama-lama di laman Vallet. Hal ini bertujuan agar para pengguna Vallet mendapatkan pengalaman menyenangkan ketika mengunjungi dan menggunakan platform Vallet.

Banyak orang berusaha untuk mencari cara mudah melakukan editing gambar tanpa harus berkutat dengan Photoshop. Tidak hanya sekadar melakukan editing gambar namun lebih spesifik lagi yaitu membuat poster.Kini kebutuhan untuk membuat poster sendiri semakin meningkat karena efisiensi waktu dan uang. Bagi kamu yang tidak bisa menggunakan photoshop karena kerumitan sekaligus tidak kompatibelnya laptop maka cobalah Vallet.id

Language »